Surat Tahun Pertama Kero -/////-

Seratus langkah.

Benar.

Butuh sekitar seratus langkah untuk mencapai rumah besar yang hangat itu dari rumah kecilnya. Rumah besar itu adalah rumah keluarga Seravine, tempat ia dan keluarganya tinggal dan bekerja. Mereka tidak diperlakukan seperti budak, tentu saja. Bahkan ia merasa seperti bagian dari keluarga itu. Ayahnya bekerja menjadi tukang kebun dan ibunya menjadi juru masak mereka. Ia sendiri diminta menjadi teman sekaligus pengawal cilik untuk cucu Nenek Seravine. Ada banyak sekali pelayan yang bekerja di sana, dan kepala pelayan mereka—Brutus—adalah orang paling seram yang pernah ia kenal. Wajahnya selalu tampak marah. Dulu, Brutus memiliki jenggot hitam yang panjang, tapi sejak ia membakar jenggot itu saat Brutus tertidur, sampai hari ini ia tak pernah melihat jenggot itu tumbuh lebih panjang dari setengah senti. Ia dan Suppi—cucu Nenek Seravine—sejak itu menjulukinya Brutus si jenggot api.

“Bosan setengah mati,” erang Ezekiel di atas punggung Monday—sapi perah kesayangannya. Punggung Monday yang lebar pas sekali untuk dijadikan tempat berbaring untuknya. Ia melempar buku tulisnya ke atas rumput lalu menyusul pensilnya. Menulis cerita jadi tidak menyenangkan kalau sahabatnya tak ada. Suppi sedang pergi ke London. Tak tahu untuk urusan apa. Katanya menemui keluarganya di sana. Satu hal yang perlu diketahui tentang keluarga Seravine adalah kenyataan bahwa mereka semua merupakan penyihir. Penyihir sungguhan. Suppi juga pernah bilang bahwa anak-anak penyihir pada usia sebelas tahun akan mendapatkan surat dari sekolah khusus untuk memperdalam kekuatan sihir mereka. Terdengar keren, bukan? Sayangnya, sekolah khusus itu merupakan sekolah asrama yang artinya jika Suppi bersekolah di sana maka ia hanya akan bermain bersama Monday di Inverness selama berbulan-bulan sampai sekolah Suppi liburan. Monday memang teman yang menyenangkan, wanita pujaan Ezekiel yang selalu memberinya susu segar tiap pagi dan kadang kalau ia ingin minum lagi, Monday akan membiarkannya mengisap langsung. Tapi Monday berbeda dengan Suppi. Dengan Suppi, ada lebih banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan. Kalau Suppi tak ada…

“Aku bisa gila, lho, Mon!”

Lenguhan terdengar sebagai jawaban dari Monday yang sedang sibuk mengunyah rumput.

“Suppi akan kembali ke sini,” kata Ezekiel meyakinkan diri. “Suppi pasti lebih memilihku daripada sekolah itu.”

Tapi bagaimana kalau Suppi ternyata lebih memilih sekolah di sana?

Galau.

“Kalau Suppi tidak ada… siapa nanti yang akan memanggilku Kero?”

Monday melenguh lagi.

“Kalau tidak ada Suppi… aku akan jadi pengangguran.”

Monday melenguh sekali lagi lalu tiba-tiba saja menggerakkan tubuhnya sampai Ezekiel terjatuh ke tanah.

“Monday, kau—”

Ucapannya terhenti. Ketika ia mengangkat kepala, dilihatnya seorang wanita cantik berambut gelap berdiri di hadapannya. Ezekiel buru-buru berdiri lalu menepuk-nepuk pakaiannya agar rumput-rumput yang menempel lepas dari sana.

“Halo,” sapanya dengan senyum canggung. Wajah Ezekiel bisa dibilang cukup kaku. Ia jarang berekspresi selain saat bersama dengan Suppi. Dan sekarang, mungkin senyumnya tidak bisa dibilang benar-benar senyum. “Anda siapa?”

“Kau boleh panggil aku Madam Harper,” kata wanita itu.

“Oh. Madam Harper… hai….”

Wanita itu rupanya sedang terburu-buru karena tanpa membalas sapaan Ezekiel, ia menyerahkan sebuah surat dan meminta Ezekiel membukanya di tempat.

Lalu membacanya.

Lalu membacanya sekali lagi.

Lalu membacanya untuk kedua kali.

“Aku adalah… penyihir?”

Wanita bernama Madam Harper itu tersenyum.

“Aku adalah penyihir…,” gumam Ezekiel lagi sambil menatap Monday dengan mata terbelalak sebelum kembali memandang Madam Harper lagi. “Sekolah ini sekolah khusus untuk anak-anak penyihir di Inggris?”

Anggukan diberikan, Ezekiel spontan melompat-lompat di tempat lalu mencium pipi Monday kuat-kuat sampai sapi itu menggelengkan kepalanya.

“Aku adalah penyihir!!”

Dengan ini, Ezekiel Cerberus Fray tidak akan menjadi pengangguran.

May Writing Projects

It’s a private project actually… I’m planning of joining some writing competition. One is a Korean Romance short story and the other is Romance Novel.

Both projects are written using my RP Characters lol…

The Korean romance short story will bring Park Shin Bi’s story… a triangle love between Park Shin Bi, Hwang Bo Eun and Go Tae Jun. Shin Bi and Tae Jun are already couple but then something bad happened to Bo Eun and that incident made Shin Bi very sad. She then decided to broke up with Tae Jun and be at Bo Eun’s side.

The novel will bring up Beauty Donks’ story. But the background isn’t in Hogwarts. She will be in a normal world but with the same condition. I found her love journey is the most interesting among my other chars. And… I really hope this novel will finish in time! AMEN!

Anorexia Nervosa

Anorexia Nervosa Symptoms:

  • Decreased Libido.
  • Thinning Of The Hair
  • Constantly Feeling “Cold”
  • Pallid Complexion And Sunken Eyes
  • Constipation
  • Dry Skin
  • Poor Circulation, Resulting In Common Attacks Of ‘Pins And Needles’ And Purple Extremities
  • Headaches
  • Brittle Fingernails
  • Bruising Easily
  • Distorted Body Image
  • Poor Insight
  • Self-Evaluation Largely, Or Even Exclusively, In Terms Of Their Shape And Weight
  • Pre-Occupation Or Obsessive Thoughts About Food And Weight
  • Perfectionism
  • Obsessive Compulsive Disorder
  • Belief That Control Over Food/Body Is Synonymous With Being In Control Of One’s Life
  • Refusal To Accept That One’s Weight Is Dangerously Low Even When It Could Be Life Threatening
  • Low Self-Esteem
  • Intense Fear About Becoming Overweight
  • Clinical Depression Or Chronically Low Mood
  • Withdrawal From Previous Friendships And Other Peer-Relationships
  • Deterioration In Relationships With The Family
  • Denial Of Basic Needs, Such As Food And Sleep
  • Excessive Exercise, Food Restriction
  • Secretive About Eating Or Exercise Behaviour
  • Fainting
  • Self-Harm
  • Very Sensitive To References About Body Weight
  • Aggressive When Forced To Eat “Forbidden” Foods

(Source: 2womenshealth.com)

Katya dan Medali Ajaib

[HOLIDAY WRITING CHALLENGE] Pindahkan Genrenya!
by Gagas Media.
Novel: Eclair, Penulis: Prisca Primasari, Halaman: 204-205
###
Katya mengusap permukaan medali perak bermata safir itu dengan takjub. Pada akhirnya medali itu ada di tangannya. Pencarian yang dilakukannya bersama Sergei selama berbulan-bulan pun selesai sudah. Tak perlu lagi mereka menyusuri hutan, mendaki gunung-gunung tinggi juga menahan dahaga di tengah gurun antah berantah. Peri bunga violet yang menemuinya saat ia tersesat di hutan Jivell tidak berkata bohong. Medali perak Ratu Tatiana sungguh ada di gua Vella, gua dalam legenda, medali itu tersembunyi di tempat yang hanya bisa ditemukan oleh orang yang memiliki ketulusan hati. Katya tersenyum, diserahkannya medali itu kepada Sergei dengan mata berkaca-kaca. Gurat lelah kini seolah hilang dari raut wajah Katya.

Read More

Zinnia Lore - FF The Hunger Games

Boredom rests upon the nothingness 
that winds its way through existence; 
its giddiness, like that which comes from gazing down 
into an infinite abyss, is infinite.




“Satu… dua… tiga… hmm….”

Zinnia terdiam. Kedua matanya yang besar lekat menatap ke tanah. Bibirnya yang semerah darah mengerucut bersamaan dengan helaan napasnya. Tiga tidak memuaskan. Gadis tiga belas tahun itu ingin lebih. Tiga tidak cukup untuk mengatasi kebosanan yang melanda dirinya, kebosanan yang menyesakkan dadanya. Tiga itu kurang. Ia mau lebih. Mau lebih.

Selalu ingin lebih.

Read More

Wish You Were Here - Short Story

Sedikit pun tak pernah terbersit di hatiku untuk meragukan perkataanmu. Hari itu, aku sengaja datang lebih cepat ke tempat perjanjian kita. Sengaja kubawa makan siangku dalam kotak bekal yang disiapkan Grey. Sebenarnya, aku bahkan membawa kotak bekal lain yang kusiapkan untukmu. Berharap kau juga datang lebih cepat sepertiku. Serangga-serangga kesayanganmu tak lupa kubawa serta. Merasa puas setelah bermain-main dengan mereka semalaman. Tak jua hentinya hatiku bertanya-tanya, ada apa gerangan hingga kau pada akhirnya memberiku ijin untuk memegang mereka, bahkan membawanya pulang satu malam.

Aku masih ingat dengan jelas betapa marahnya dirimu saat aku berusaha memegang laba-labamu yang cantik di rumah sakit. Pertama kalinya kau memukul tanganku juga pertama kalinya aku menangis. Aku marah padamu saat itu tapi di lain pihak, aku juga merasa bersalah padamu. Sejak itu aku tak pernah berani lagi meminta ijin padamu untuk menyentuh peliharaanmu yang begitu kau sayangi. Aku takut melihatmu marah. Walau di wajahku tak pernah terlihat ekspresi takut seperti itu. Aku menutupinya dengan semua keisengan yang kuperbuat padamu.

Lalu, di hari aku tenggelam di danau… kau menyelamatkan aku. Kau menarik tubuhku keluar dari air dan saat aku tersadar, rupanya saat itu kau juga telah menarik hatiku keluar lalu tinggal di dalam hatimu. Saat itu aku menyadari perasaanku yang sebenarnya.

Walau ternyata terlambat. Kau sudah punya seseorang di sampingmu.

Aku harus cukup puas hanya menjadi sahabatmu. Setidaknya dengan begitu aku takkan pernah benar-benar kehilanganmu. Begitulah pikirku.

Aku terus menunggu.

Hingga matahari meninggi tepat di atas kepalaku. Hingga isi kotak bekalku habis lalu menyusul kotak bekalmu. Lalu matahari pun terbenam dan langit berubah gelap… kau tak juga datang. Kau ada di mana, tanyaku dalam hati. Apakah kau sedang bersama kekasihmu? Apakah kau lupa janji kita untuk bertemu? Apakah kau tak lagi peduli pada serangga-serangga kesayanganmu?

Kemudian hujan turun membasahi seluruh tubuhku. Grey memaksaku pulang karena tubuhku terserang demam. Aku menggigil kedinginan. Kupeluk kotak seranggamu erat-erat, terus meyakinkan diriku bahwa kau pasti akan datang. Tapi tidak. Kau tak datang.

Kau tak pernah datang. Tak akan pernah.

Karena kau telah meninggalkanku, pergi ke tempat yang begitu jauh… ke tempat yang tak bisa kugapai.

Dan kini… aku terbaring lemah di atas reruntuhan atap batu sekolah kita. Aku baru saja terjatuh dari ketinggian dan sialnya aku mendarat tepat di atas reruntuhan runcing yang menembus perutku. Hey, bisakah kau lihat darah mulai mengalir keluar dari tubuhku? Kesadaranku mulai hilang. Rasa sakit yang harusnya kurasakan sama sekali tak terasa. Aku melayang. Suara ribut-ribut di sekitarku hanya terdengar bagai dengung sayap lebah. Lalu saat aku mengerjapkan mata…

Aku melihatmu memandangku dengan senyum lembut terulas di wajahmu.

Kau mengulurkan tanganmu padaku.

Aku balas tersenyum dan kuulurkan tanganku.

Kau genggam tanganku dan aku terbang di sisimu.

Hey, Lucas. Akhirnya kau kembali ke sisiku.